Showing posts with label Curhat. Show all posts
Showing posts with label Curhat. Show all posts

Friday, November 02, 2012

Senandung masa lalu

Sudah lama ngga posting di blog, semenjak notebook mulai tanpa sadar saya pensiunkan dibawah tumpukan buku2, hobi baru membaca novel atau sekedar bermain games di handphone.

Tanpa sengaja saya baruu saja mendengar lagu mendua dari astrid, dan seperti penyakit lama yang kambuh, luka hati kembali mencuat, aaahh, walaupun saya ingin menjadikan blog ini tidak hanya sebagai pendengar kesedihan saya, tapi kepada siapa lagi saya harus bercerita. Biarlah halaman2 disini menjadi pendengar terbaik dan terhebat yang bisa saya temukan.

Entah kenapa beberapa hari ini otak saya terus menerus memaksa saya berpikir tentang beberapa rentang waktu kebelakang, saat jiwanya bersama saya tapi saya yakin hatinya sudah menemukan orang lain, saat dia memilih meninggalkan saya, dan saat saya tanpa sengaja melihat foto2 itu. Semuanya membuat saya terpaksa berkesimpulan dia mendua sebelum meninggalkan saya. Yah, ini bukan yang pertama saya diperlakukan seperti ini dan tiba2 saya sedih dan muak mendengar nasihat2nya pada saya dulu.

Hmm..beberapa kalimatnya yang terus menerus membuat luka hati ini tidak kunjung sembuh adalah tentang keberuntungan saya, betapa beruntungnya saya dia masih memutuskan saya via bbm!! Ya..via bbm..
Dan betapa beruntungnya saya dia tidak berselingkuh dibelakang saya sebelumnya, yang sekarang sangat saya ragukan kebenarannya. Ironis memang dia masih mempertahankan image dirinya saat dia menghancurkan saya.

Tj. Selor, 2.11.2012

5 bulan berlalu, dan hati saya masih saja terluka,

Wednesday, August 15, 2012

Pulang ke Rumah Tercinta

Tak terasa besok jadwal saya untuk kembali ke rumah tercinta. Tapi jujur sangat malas rasanya meninggalkan tempat pertapaan ini. Karena beberapa dan lain hal yang membuat saya malas bertemu ibukota dan beberapa orang disana. Kenangan pahit tidak hanya tertoreh dalam dua bulan ini, tapi akan selalu tertoreh entah sampai kapan. Semoga saja ada toner di swalayan yang dapat digunakan untuk menghapus luka hati atau mengangkat hati yang sudah banyak kerusakannya ini. hehe.

Tapi rasa rindu akan papa, mama, dan adik-adik membuat saya tetap melangkahkan kaki untuk pulang. Tentu akan menjadi kesedihan jika saya tidak pulang, karena hanya pada moment ini kami sekeluarga dapat berkumpul sebelum saya kembali ke kalimantan, adik saya Dian ke purwokerto, dan si bungsu Aldhi memulai kehidupan mahasiswanya di surabaya. Tentu akan sangat mahal harganya berkumpul bersama lagi.

Tiket yang sedianya sudah saya beli sejak satu setengah bulan yang lalu dengan harga hampir empat juta rupiah itu baru saya print tiga hari yang lalu. Ya, saya memang sangaat malas untuk kembali ke Ibukota saat ini, tetapi hati kecil saya selalu merindukan keramaiannya.

Semoga semua baik-baik saja. Amin.


Tanjung Selor, 15 Agustus 2012


Bersiap mencari backpack.

Tuesday, August 14, 2012

Penasaran oh penasaran

Setiap hari saya selalu berusaha menyempatkan untuk melihat statistik penayangan di halaman tempat semua inspirasi ataupun amarah tertuang ini. Entah kenapa statistik bulan ini cukup baik, bahkan signifikan meningkat. Misal pada 9 Agustus 2012 ada 63 penayangan dalam 1 hari, begitu juga beberapa hari setelahnya. Sayangnya saya hanya bisa mengetahui jumlah penayangan, tanpa pernah tahu siapakah pembaca yang telah membaca tulisan-tulisan saya. hehe

Anyway, terima kasih untuk yang sudah mampir sekedar melihat-lihat blog ini, membaca, ikut trenyuh dengan kisah sedih saya, atau malah terinspirasi dengan beberapa kisah lainnya. Semoga saya masih dapat terus produktif menulis. Walaupun, hipotesa saya sekarang adalah "saya dapat lebih produktif menulis saat sedih atau patah hati", tapi saya juga ingin menulis saat-saat bahagia. I wish..

Tanjung Selor, 14 Agustus 2012


Mess yang sepi karena sebagian besar penghuninya pulang kampung.

Monday, August 13, 2012

Bahagiakah saya?

Tidak terasa ramadhan kali ini akan segera beranjak meninggalkan kita, dan langgar-langgar mulai dihinggapi kesunyian karena jemaah yang terus menyusut dari puluhan shaf hingga bersisa dua shaf saja. Entah apa ada kesempatan untuk bertemu ramadhan-ramadhan selanjutnya, berpuasa bersama keluarga tercinta, atau sekedar bertemu teman-teman. Tetapi asa tetap harus terjaga agar kita bisa meningkatkan hidup yang lebih berkualitas, membuat penyesalan tersendiri bagi orang-orang yang menganggap kita tidak penting, dan menjadi yang terbaik. Itu janji saya. Apa janji kamu?

Oh ya, saya juga akan belajar dan terus belajar apa itu memaafkan, serta bagaimana menghadapi diri saat bersedih sendirian diujung dipan tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Saya mau menjadi kuat, dan itulah doa doa saya di ramadhan ini. Saya bukan orang yang memiliki tingkat religius yang tinggi sehingga bisa bicara banyak tentang agama, tapi saya mau tahu dan peduli. Tentu dengan cara saya sendiri, saya tidak mau lagi mengkhawatirkan orang yang jelas-jelas akhirnya hanya akan meninggalkan saya. Enough is enough.

Kadang apatis justru menjadikan kita jauh lebih kuat, kuat diluar, tapi tidak apa-apa itu jauh lebih baik daripada peduli dan akhirnya menyakiti. Saya berharap suatu saat saya akan bisa memaafkan orang-orang yang sudah membuat jejak buruk di hati saya, semoga mereka mendapatkan kelapangan rezeki, dan berkah hidup

Tapi bahagia? pantaskah mereka bahagia setelah apa yang mereka lakukan pada saya? 
Bahagiakah saya melihat mereka sulit?
Entahlah..

Tanjung Selor, 13/8/2012


Diujung Dipan

Monday, August 06, 2012

if anyone understand my feeling now...

Alunan lagu midnight bottle tiba-tiba berbunyi ketika saya sedang tidur-tiduran di kasur sambil menahan sakit di perut akibat berbuka puasa dengan mie instant. Nama yang tidak asing muncul di layar smartphone saya, nama yang sangat lekat di hati saya beberapa tahun belakangan bahkan hingga nama itu membuyarkan lamunan saya. Sedikit ragu akhirnya saya putuskan mengangkat panggilan itu.

"halo.."

"halo, tya apa kabar? sehat kan?"

"sehat.. alhamdulilah.." dalam hati saya ingin sekali bicara kalau jiwa saya sehat, tapi hati saya sakit parah.
"tumben telpon, ada apa?" sahut saya kemudian,

"aku cuma mau tahu keadaan kamu, sehat ngga"

"ooh saya sehat. kamu sendiri bagaimana?

"alhamdulilah sehat"
.....
"aku mau minta maaf tentang yang kemarin",
aah saya tidak tahu harus bicara apa tentang maaf, seandainya saja hati saya begitu lapang untuk melupakan dan memaafkan apa yang terjadi diantara kami kemarin. Tapi ternyata hati saya terlalu lemah, saya tidak pernah bisa melupakan sedikitpun semua yang terjadi diantara kami. Saya tidak ingin mendendam, karena saya tidak pernah membenci dia, tetapi mendengarnya meminta maaf hati saya tiba-tiba membeku. Saya terlena dalam diam, karena bagi saya saat ini diam adalah yang terbaik, saya tidak bisa mengatakan maaf kalau hati saya masih tak bergeming.

"aku mau minta maaf tentang hubungan kita yang tidak bisa aku lanjutkan"

"saya ngga tahu harus bicara apa" akhirnya hanya itu yang bisa terucap dari bibir saya. 

"kamu ngga perlu bicara apa-apa. aku cuma pengen tahu keadaan kamu disana. Aku juga mau kasih tahu kalau aku akan berangkat tugas ke "negeri antah berantah" setelah lebaran, entah sampai kapan"

Saya lagi-lagi terdiam, teganya kamu pergi meninggalkan saya tanpa pernah mau membantu saya membuka kunci di hati saya. Entah sampai kapan kamu mau mengisi seluruh hati yang telah luluh lantah ini dengan kenangan yang sudah tidak utuh lagi. Saya tidak tahu..

"Kapan berangkat?" saya menyaut kemudian,

"Belum tahu tanggal pastinya, tapi setelah lebaran"

"Yasudah, kabari saja saya kapan tanggal pastinya kalau sudah tahu."

"Ya.. Jaga kesehatan kamu disana ya.."

"Ya.." saya menyahut lemah..masih pedulikah kamu tentang kesehatan saya?
"Oia, apa ibu kamu sudah tahu tentang kita?" lanjut saya,

"sudah, 2 minggu yang lalu saya bilang. Ibu cuma bilang semua terserah pada aku dan kamu. Tapi silaturahim tidak boleh terputus, bahkan saat kamu punya suami dan aku punya istri"

aah lagi-lagi tidak sadar dia menyakiti saya. Saya tidak pernah sanggup membicarakan perpisahan atau orang baru akhir-akhir ini. Perpisahan saya dengannya sudah cukup banyak menguras energi dan pikiran saya belakangan. Tahukah dia saya baru bisa terlelap pukul 2 pagi setiap malam karena terngiang-ngiang semua perkataannya yang menyakiti saya, juga tentang janji-janji manisnya, tentang kenangan manis yang semu kami bersama. Semuanya tiba-tiba rajin melintas diatas kepala saya, mengganggu jam tidur saya.

Seandainya dia tahu, setelah telepon berakhir ada tangisan yang pecah karena putus asa. Teleponnya seperti membangunkan saya dari tidur sementara saya dari patah hati berkepanjangan ini. Saya seperti didorong untuk terjun bebas dari lantai 20. Sangat sakit.

Ingin sekali hati bertanya siapa wanita pengganti saya di hatinya. Tapi saya tidak sanggup mendengar jawaban apapun lagi sekarang. Saya bahkan tidak bisa fokus dalam pekerjaan saya beberapa saat belakangan.

Seorang sahabat yang saya anggap kakak saya berkata,
"Yang kalian butuhkan hanya duduk berdua, berbicara dengan merendahkan ego dan akui kalo kalian masih ingin bersama"
ahh..jangan-jangan hanya saya yang masih dengan angan saya. Tapi tidak dengan dia.
Wallahualam.

Yang saya tahu, ada kunci di hati saya yang hilang. Tidak tahu dimana. Biarlah ruangan itu tetap terisi dengan kesemuannya sekarang. Entah sampai kapan..


Tanjung Selor, 6/8/2012


Sirosis Hepatis.

Wednesday, July 25, 2012

How a Heartbreak is Unfair


Selamat berbuka puasa bagi yang menjalankan,
setelah seharian dikamar karena sakit yang mendera akhirnya ujung-ujungnya cuma ngeliatin notebook yang nganggur dan ga tahan juga buat nulis. huhu

saya masih ada hutang cerita kedua mengenai kehidupan saya belakangan, yaitu cerita cinta. haha. oke saya akan mulai bercerita..

Ceritanya diawali pada dua tahun yang lalu, saat-saat saya masih gamang dalam menentukan pilihan mengenai pasangan. Saya menilai pasangan saya saat itu tidak sesuai sepenuhnya dengan keinginan saya, dan  sifatnya yang terlalu cuek ternyata membuat saya lelah tetapi sayapun sudah lelah untuk memulai hubungan baru. 

Sampai datang orang baru dalam hidup saya dengan segala pengharapan dikepala saya, saya mulai mengenalnya. Dia pribadi yang menarik, simpati, baik, dan menyenangkan. Dia datang dengan semua pesonanya dimata saya. Nyaris tanpa cacat!

Sebagai seorang wanita yang memiliki kekasih tentu hati saya gamang, tetapi saya putuskan untuk jujur mengatakan semuanya ke pasangan saya, tentang dia dan orang baru itu di hati saya. Pada saat itu saya masih berfikir kalau pasangan saya benar-benar mencintai saya, dia pasti akan berusaha mempertahankan saya apapun caranya. Ternyata perkiraan saya salah, dia memilih meninggalkan saya dengan berbagai alasan.  Dan disaat saya membutuhkan tempat untuk mencurahkan semua perasaan saya, orang baru itu selalu setia menemani saya, dalam suka maupun duka, bahkan bisa dibilang waktunya 24 jam hanya untuk saya.

Dua tahun berlalu, dan orang baru telah menjelma menjadi kekasih hati saya. Tidak ada kegamangan sedikitpun tentang dia di hati saya. Saya mencintainya. Ya sepenuh hati, jiwa dan raga saya yang ada dibenak saya hanya dia seorang. 

Namun ternyata keadaan sudah tidak sama, cintanya pada saya sudah tidak sama seperti awal dia hadir di kehidupan saya, sinarnya melemah bahkan hampir mati. Waktunya yang dulu hampir 24 jam milik saya, sekarang bahkan satu jampun tidak saya dapatkan. Tidak pernah ada telepon dari dia, hanya ada pesan melalui blackberry messenger yang dulu tidak disukainya. Itupun hanya membalas pesan saya.

Saya sangat menyadari semua perubahan yang terjadi, tetapi saya terlalu takut menerima kenyataan kalau hatinya sudah tidak untuk saya. Saya membiarkan semua larut. Dia larut dalam dunianya, dan saya tetap larut dalam impian saya. Impian saya tentang pernikahan, anak, dan sebagainya. Bukan saya tidak pernah resah tentang pernikahan mengingat usia saya sudah cukup untuk menikah dan desakan banyak keluarga, tetapi saya ingat perkataannya tentang persoalan hidup yang sedang menderanya dan pertengkaran-pertengkaran kami setiap membicarakan pernikahan, maka saya bungkam. Saya tidak pernah bercerita keresahan saya tentang permintaan ibu dan nenek saya tentang pernikahan. Karena saya takut itu hanya akan mengganggunya.

Beberapa bulan sebelum keberangkatan saya ke kalimantan dia harus menjalani pendidikan ke Surabaya. Sesungguhnya hati saya resah bukan kepalang, karena saya tahu apapun bisa terjadi disana, karena saya juga tahu saya sudah tidak ada di hatinya. Hampir setiap hari saya hanya bisa menulis pesan "jangan nakal" sambil menahan sedih. 

Beberapa kali pula dia pulang ke Jakarta, dan saya sengaja bertanya apa alasannya pulang, "kangen rumah", "kangen mama" jawabnya, saya tidak pernah menyalahkan jawabannya walaupun saya sangat ingin mendengar dia bilang rindu saya. Tapi biarlah saya simpan semua sendiri. Melihatnya ada didepan saya saja sudah membuat saya senang bukan kepalang. 

Menjelang keberangkatan saya ke Kalimantan dia pulang. Dan kamipun menghabiskan hari bersama, saya berdoa dalam hati "semoga keadaan berubah ketika saya kembali 1 tahun lagi, dia yang saya cintai telah kembali menjadi dia yang membuat hati saya bergetar". Dia mengatakan banyak pesan untuk saya, supaya saya tidak nakal dan bisa menjaga diri, dan saya sibuk dalam hati "sayang, tanpa kamu pesan padaku, akupun pasti hanya akan menjaga diriku untuk kamu. Karena semua kasih dan cintaku sudah kuserahkan pada kamu tanpa sisa".

Dua minggu setelah saya di Kalimantan, alarm ponsel saya berbunyi "2nd anniversary", ya saya memang selalu menyimpan semua tanggal penting di penanggalan ponsel karena saya sangat lemah dalam mengingatnya. Saya langsung mengirimkan pesan,
"selamat anniversary"
"?" jawabnya
"alarm handphone saya berbunyi kalau sekarang 2nd anniversary kita"
"oo" jawabnya.
Ya Tuhan, sedihnya hati saya. Apakah benar-benar sudah padam cintamu untukku kekasih?

Siang hari saya meneleponnya, tetapi responnya sangat datar, bahkan terdengar malas menjawab telepon saya. Saya berusaha pura-pura tidak mendengar respon malasnya dan tetap mengajaknya bicara. 

Malam hari, ketika dia tidak membalas pesan saya dengan semangat akhirnya saya putuskan untuk bertanya. "ada apa? kenapa kamu seperti malas sekali menjawab semua pesan dan telepon saya",
"sepertinya saya sudah tidak bisa melanjutkan hubungan ini lagi"

Ya Tuhan, Ya Allah, Ya Rabb,
hati saya hancur sekali, tangisan meledak dikamar diujung kalimantan ini. Saya merasa dia sengaja memilih meninggalkan saya saat saya jauh tidak berdaya. Banyak pikiran berkecamuk di kepala saya, saya benci dia.
Ketika semua kata-kata emosi tanpa sadar saya berikan kepadanya hanya dibalas dengan kata-kata "maaf" atau "siap menerima karma" saya tiba-tiba muak.

Berhari-hari saya larut dalam kesedihan dan amarah mendalam. Berhari-hari saya mengirimkan pesan tanpa kontrol kepadanya. Sampai akhirnya diapun ikut larut dalam marah,
"masih untung saya putuskan hubungan ini melalui bbm"
"masih untung saya tidak selingkuh"
"masih untung saya masih ada untuk kamu"
tahukah kamu, kamu yang saya kenal sudah lama menghilang dari hidup saya. Tetapi raga yang saya cintai memang tetap sama.

Kata-kata itu selalu terngiang di kepala saya hingga saat saya menulis. Sakit itupun masih terasa hingga kini. Tetapi saya memutuskan berhenti menuliskan kata-kata amarah saya kepadanya. Berusaha untuk tetap hidup dengan sakit di hati saya. Masih ada tanya di hati saya, kenapa dia memilih waktu meninggalkan saya saat saya berharap penuh padanya? saat saya kesepian sendiri berjuang hidup disini?

Kemarin, dia mengirimkan sms bermaafan karena bulan ramadhan. Malas sekali rasanya saya membalasnya. Karena jujur, saya tidak pernah berhenti marah padanya sampai hari ini, karena saya masih terbelenggu dengan cinta saya untuknya.

Sekarang, saat ini, dan mungkin sampai waktu yang tidak bisa saya tentukan, saya memilih untuk menikmati kesendirian saya, mengenali lebih jauh sifat dan pribadi saya. Saya terlalu takut untuk merasakan rasanya ditinggalkan lagi..
Terlalu menyakitkan kalau saya harus merasakan ini lagi atau mengajak orang lain dalam duka lagi? Sungguh itu bukan pilihan terbaik rasanya. Biarlah saya sendiri mencoba mengobati luka ini.


tanjung selor, 25/07/2012


Balada Putus Cinta